“Apa caffe ini masih buka” kataku kepada pelayan itu
Ia menatapku yang kebasahan “seharusnya sudah tutup, ini sudah lewat tengah malam” lalu dia tersenyum dan melanjutkan “tapi untuk perempuan yang sedang patah hati...., hmm silahkan duduk”
Tanpa basa-basi aku duduk dan memesan segelas kopi. Ya, aku memang sedang patah hati, dan aku yakin siapapun yan melihat raut wajahku malam ini pasti tau itu, begitupun pelayan itu.
Ditemani kopi hitam itu, aku menangis bersama deras hujan. Toni yang kusayangi telah melakukan kesalahan besar, dia pantas mendapat hukuman, aku membencinya dan benar-benar membencinya. Aku ingin hatiku seperti yang ada dipikiranku. Perselingkuhan adalah hal yang tidak akan pernah diterima oleh perempuan manapun, begitupun aku. Lebih dari dua tahun menjalani hubungan disertai dengan aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya hancur hanya karena seorang perempuan yang baru ia kenal. tangisanku tak henti mengingat kenangan manis yang Toni beri, mengapa disaat seperti begini memori otakku harus memutar kembali histori kebersamaan itu.
Hp-ku berdering, Riko menelponku. aku mengangkatnya dan mencoba menahan tangisanku
“hallo?”
“Hai Nadia, boleh kita ketemuan sekarang?” Aku sempat kaget, bukan karena dia mengajakku diwaktu seperti ini, tapi karena Riko berbicara sambil menangis.
“inikan sudah lewat tengah malam”
“Please…”
Aku sempat berpikir sejenak
“ya udah, jemput aku di caffe…” aku melihat ke menu diatas meja “di dePacino Caffe, di simpang melati”
Riko tak menjawab, ia langsung mematikan panggilannya.
Isak tangisku tiba-tiba berhenti berganti dengan rasa penasaran apakah Riko akan datang, dan mengapa ia juga menangis. Riko adalah mantanku, kami menjalin hubungan hanya dua minggu, aku dan Riko sekelas di SMA dulu, boleh dibilang kami mengalami cinta lokasi. Kami putus karena kami tidak menemukan kecocokan. Namun sejak aku lulus dan kuliah, kami tidak pernah lagi berkomunikasi.
Berselang setengah jam Riko datang dan menghampiriku. Kami duduk berhadapan. Mukanya tampak pucat. Ekspresinya membuatku bingung. Sambil menyisirkan jemari kerambutnya Riko mulai berbicara
“Kamu apa kabar Nad?”
“Langsung aja Rik, ada apa? cerita aja… aku sedang gak mau basa-basi dan aku tau kamu sedang ada masalah”
“Kamu seperti baru aja kebasahan Nad”
“Riko, kamu kenapa? Haruskah kamu buang-buang waktuku? Aku tau kamu gak mungkin nelpon kalau gak ada sesuatu yang pent..”
“AKU BARU AJA BUNUH ORANG NAD!!!”
Bersambung…

Komentar
Posting Komentar