“AKU BARU AJA BUNUH ORANG NAD!!!”
Aku seketika terdiam antara percaya dan tidak percaya. Namun kalimat Riko selanjutnya benar-benar membuatku terkejut, dengan nada bicara yang lebih pelan dan dengan tatapan yang tajam kepadaku dia berkata
“aku sudah membunuh orang yang menyakitimu nad, aku sudah membunuh Toni”
“Kau ini bicara apa Rik? Aku benar-benar gak paham”
“tidak ada yang boleh menyakitimu. Kau begitu berharga untuk disakiti Nadia” Riko mengatakan itu sambil menunduk seakan bergumam.
Suasana sontak menjadi hening, akupun menjadi panik. Riko yang kukenal adalah seseorang yang tidak pandai berbohong. Riko kembali menatapku, kesedihan wajahnya seakan pudar berganti dengan wajah yang marah. Anehnya dia tersenyum
“sekarang tidak ada lagi yang menjadi penghalang diantara kita, kau sekarang bisa mencintaiku utuh. Pengorbanan ini adalah bukti bahwa aku tidak pernah merelakanmu untuk siapapun. Cukup aku yang menikmati dirimu, cukup aku yang menikmati keindahanmu itu…
Aku tidak terlalu mendengarkan Riko, tatapanku sudah tertuju pada TV dibelakangnya. Sedang diberitakan pembunuhan sadis seorang mahasiswa berinisial TL. Riko tidak berbohong dia memang membunuh Toni. Aku mengenal betul tempat yang ada di berita itu. Toni Lesmana, mantan kekasihku yang baru saja kutangisi telah tiada. Aku tidak bisa menahan air mata
“CUKUP AKU YANG MEMBAHAGIAKANMU, CUKUP AKU YANG MERASAKAN BIBIRMU YANG MERAH ITU” Riko tidak berhenti
“Apa yang telah kau lakukan Riko?” tanyaku dalam tangis
“Ini semua demi kau Nadia. Demi kebahagiaanmu”
“Apa yang telah kau lakukan Riko!!! Apa kau penguntit yang selama ini memata-mataiku? Apa kau yang selalu mengirimkan mawar ungu itu, apakah kau Erswan Achdi?”
“Nadia, Nadia, Nadia sayangku. Tiada guna kau bersedih untuk si brengsek yang sudah menyelingkuhimu itu sayang”
“GILAAA! KAULAH YANG BRENGSEK RIKO” Aku tidak bisa menahan diri, cangkir kopi itu telah kulemparkan tepat mengenai pelipis kanannya. Riko berdiri membelakangiku tepat dengan bunyi pecahan cangkir itu, aku tau dia kesakitan. Lalu seperti tidak merasakan sakit dia tertawa
“Dasar wanita tidak tau diri” dia berkata sembari kembali menghadapku. “coba kau katakan, apa kurangnya aku” lanjutnya
“KAU ADALAH PRIA PALING BRENGSEK YANG PERNAH KUTEMUI RIKO” kataku dengan geram
Riko diam, mata kanannya masih ia tutup, dan mata kirinya memerah, dia sungguh naik pitam. Dia mendekatiku dengan langkah gontai. Aku sangat takut seakan waktu menjadi melambat, kucoba untuk bangkit berdiri sebab kulihat tangannya sudah siap menerkamku.
“Hei ada apa ini?” teriak pelayan tadi, ia bergegas mendekati kami
Aku sudah berdiri, Riko masih menatapku. Jika bukan karena pelayan itu dia pasti sudah melukaiku. Suara sirine terdengar, beberapa mobil polisi telah berada di depan. Mendengar itu Riko salah tingkah dan berjalan mundur kemudian berlari secepat kilat. Namun polisi lebih cepat, mereka telah berada di dalam caffe.
“Jangan bergerak!” Ancam polisi dengan mengarahkan pistol kearah Riko yang membuatnya mengangkat kedua tangannya. Seketika Riko telah dibekuk
Tubuhku melemas dan terlempar kembali duduk. Pandanganku kabur dan menggelap, perasaan bercampur aduk membuatku hanya bisa terbujur kaku. Aku tak mempedulikan polisi yang berlalu-lalang membawa Riko keluar, sebentar lagi aku akan pingsan. Seorang polisi setengah baya yang masih berbincang dengan pelayan caffe itu melihatku, pandanganku sudah semakin kabur. Dipertengahan kesadaranku sebelum pingsan sepertinya aku mendengar suara polisi itu
“Aku menjagamu Nadia”
Chapter 1 - Selesai.

Komentar
Posting Komentar